kontributor: nashi koto khan
Saya mungkin orang yang sentimen menyimpulkan sesuatu. Dengan sedih saya sampai pada kesimpulan buruk: Titi Kamal itu ndak bisa main pelem. Dan untuk dicatat, dia bukanlah seorang komedian.
Menonton pelem ini (saya berharap, pelem ini baik sebab meski pun genre komedi Porno sedang laris, judulnya belum sampai pada kesimpulan buruk) yang berjudul DO alias Drop Out saya sampai pada eksimpulan kedua; di antara pelem-pelem buruk ini pelem buruk kedua yang saya tonton. Pelem buruk yang dimainkan oleh orang ‘ternama’.
Mau tau pelem paling buruk yang lain? Saya tidak akan berahasia, Judulnya Soul Mate (belahan Jiwa). Tadinya saya ingin menulis ini. tapi saya malu. Soul Mate, saya lupa tahun produksinya, dimainkan oleh Dian sastro sarjana kita yang cantik itu. Eit tak Dian seorang lo, ada Rachel Maryam, ada .... siapa lagi kok saya jadi lupa2.
Saya tak tahu penyakit baru di pelem kita sedang berkembang. Saya pikir pelem kita tak separah televisi yang memborbadir orang dengan tema yang itu-itu saja dengan alasan lagi tren pasar, gitu kan? Pelem kita kita juga begitu ternyata. Setelah hantu (sampai kini belum habis-habisnya) kita disodori pelem Komedi dewasa. Aih, rasanya kita balik ke masa Inneke Koesherawati, Malfin Sheina, Sally Marcelina lagi. Cuma judulnya ndak semenantang itu dan pornonya lebih bermoral, dikit. Dan LSF lebih memakai etika ketimuran yang dahsyat, ditambah adanya ulama yang ikut menjadi penyensor kedua.
Ah, saya tidak sedang berceramah sodara-sodara biarlah itu jatahnya si Jejen. Saya sok bijak saja kayak si Goes Moeh itu. Saya tidak masalah mau pelem telanjang atau apalah namanya, karena saya juga suka pelem-pelem begituan, sumpah. Apalagi artisnya lokal, bahasanya saya ngerti. Ereksinya bisa dua kali. Tanyalah Jejen soal itu.
Hm... jadi DO dari kacamata saya (maafkan, kali ini resensi saya agak kacau; kian nggak jelas seperti pelem DO ini) adalah salah satu dua pelem yang paling buruk. Komedinya tak sampai, kesan joroknya juga ndak tiba. Lalu pelem jenis apakah ini kita namakan?
Alkisah, pelem dibuka dengan adegan manis, ospek di kampus. Di mana, tokoh utama cowok kita Jemi (Ben Joshua) awalnya ospek, lalu menjadi panitia ospek sampai bertahun-tahun berikutnya. De’e iku mahasiswa abadi jenenge. Tapi mukanya imut abis. Gak terlihat tua lo. Sumpah. Di kampus ada Doktor (doktor bukan dokter) M namanya doktor M. yang main ya Pak Dokter Perkelaminan kita, Dr Boyke, yang suaranya kayak Agung (Dwi Hartanto) kalo bermanja itu. Dia killer tapi seneng cewek. Sukanya bertengkar dengan istrinya ditelpon soal hubungan badan dan demen cewek cantik.
Uih, dasyat… si Jemi kita ini punya ibu kos yang genit dan suka tidur sama anak-anaknya (anak kos). Ada Dwi Sasono yang ndak tau masih kuliah apa ndak tapi.. ah.. pusing saya. Ndak bisa saya menceritakan ulang. Terlalu ancur saja menurut saya.
Jadi gini aja deh. Kita liat adegan per adegan aja, biar enak. Dengan dan saksikan akting diokter M kita yang semua alkulturasinya selalu tinggi itu. Atau hari pertama Titi Kamal di kampus dan lihatlah betapa garingnya ketika Titi Lari dari kejaran Doktor M. Doi kebentur tiang, tapi sumpah ndak lucu. Lha, justru kita kasian. Trus dia ketemu Ben, eh, Jemi yang suka ngejar-ngejar cewek.
“Masya Allah.. bodohnya….” Jerit Titi Kamal yang membuat saya tersenyum karena umpannya tak mempan.
Denger pula penjelasan si Jemi pada temannya Dimas Aditya ya, seputar perkelamnian di perpus kampus. Suaranya keras lagi. Konyolll.. lalu si Lea (Bu dosen Titi K kita) mendengar. Dan lihat, dia ber oh-oh di perpus itu. Tolol banget deh. Dia terangsang atau jijik? Cara dia menguping membuat saya iba, sampe salto-salto segala. Gak wibawa banget deh.
Nah dia itu yang menyeret Jemi ke sebuah ruangan. Dia bermurahhati membantu Jemi belajar (kayak anak sma itu lo) biar cepat lulus dengan konsekwensi dia diajarkan hal-hal begituan. Dia mau diajarin gituin. Kegatelan ato iri sama adiknya yang sudah buncit duluan?
Begitulah. Sementara di kosan, si ketek out alias mati gara-gara nelen obat kuat kebanyakan dan gak kuat liat ibu kos yang buka baju didepan dia. Mati berdiri lo. Sumpah, pake berdiri. Lalu tiba-tiba, sepertis sebuah sinetron, polisi datang, mau menangkap si germo (Dwi Sasono) yang ternyata pengedar pelem porno.
Dua alasan inilah yang membuat Tokoh kita jadi bertekat lulus kuliah. Jadi untuk merubah tokoh kita ini harus ada yang mati dan ditangkap polisi dulu.
Belum lagi tokoh-tokoh yang mengejek Cuinta Lauwrra (r-nya ditebelin tapi gak dibunyiin. Kayak rrr singa itu lo) yang ojhegnya bechek karena ujhan. Ada komedi satir dan tak lucu tentang anak baru yang namanya Niken Tilu. Apanya yang lucu coba?
Ada adegan doktor M lagi yang bertengkar sama istrinya di restoran ngomong seks lagi. Ada adegan Titi Kamal nangis di kamar Jemi dan bilang “Kok gak dipeluk sih, kayak dipelem-pelem itu…” ada Titi Kamal yang berteriak “Hoi.. (orang-orang) Jemi ternayata belum pernah ngesek....” Ada adegan perkoncoan Jemi dan Doktor M soal kelulusan. Si Germo yang keluar dari penjara dan sebel melihat Jemi jadi anak manis gara-gara Titi Kala, eh Kamal. Lalu dia mencuri HP Jemi dan “menukar” Bu Lea dengan sarjana kawannya itu. Dan sip. Titi Kamal diajak tidur sama Boyke. Adegan konyol garing ini berakhir dengan rintihan Sang Doktor memegang anunya dijilat sikut si Titi Kita. Konon adegan ini ditunggu-tunggu banyak orang. Terberkatilah kalian. Dan terkutuklah surtadara dan badan sensor yang nggak memperlihatkan telanjang saja semuanya supa ya semua puas puas puas... Itung2 ada yang bisa dibawa pulang.
Lalu ini agak manis adegannya, Lea datang ke Kos Jemi dan ngamuk. Dia telah dijual. Dia tidak terima dan menampar Jemi di depan kawan-kawannya yang lagi sibuk mengelilingi ibu kos. Lalu Titi pergi dengan tangis luar biasa. Jemi lesu, bu kos dengan enteng pulang.
“Germo ngaku aja deh lu…”
Dan berbaku hantamlah si Germo yang badannya besar dengan Jemi yang kecil. Tapi kebenaran selalu menang bukan? Maka datanglah polisi dan Jemi dirawat kawan-kawan yang simpati.
Selajutnya, Doktor M dipecat dan dia berterimakasih sama si Lea kita itu, sebab keluarganya menjadi harmonis, katanya. Lalu adegan Lea, Bu Dosen itu terjatuh dari tangga kampus karena sibuk menelpn Jemi dan minta maaf. Jatuh lagi, jatuh lagi. Kayak Warkop aja nih. Lalu? Ya mereka pacaran. Si Jemi dan Bu Lea. Jemi wisuda. Ndak jadi DO. Lalu? Si Banci teman Jemi yang sering minjamin uang itu menikah. Dengan? Niken Ti… Lu..” kata pendeta yang mengawinkan mereka. Lalu, ya ketawa, kan lucu. Orang pendeta aja susah nyebut namanya. Lalu? Ya liatlah sepasang anak muda yang senyum-senyum di tengah pengunjung. Lalu? Abis deh. Lalu? Teriaklah keras-keras.. “do-ado, pelem komede kok kayak gene tak iye..”
Hm.. (sok wibawa nih) itu tentu pandangan subjektif saya saja. Anda boleh bilang ini pelem paling berhasil dan mestinya memborong piala citra, ikut festival seperti pelem hantu itu dan semacamnya. Saya hanya heran aja dan cemburu, di Jakarta minjam uang itu gampang banget. Atau si jemi yang terlalu beruntung. Tiap kali terjepit dan butuh uang tinggal ngetuk kamar tetangganya, mengulurkan tangan dan sejumlah uang meluncur. Apa dia punya bendahara ya?
Gak ada gambaran anak kos yang miskin di sana. Yang kayak Gusmuh dulu, mengayuh sepeda tua memakai caping membelah jalan Gejayan dengan muka hitam, keringatan dan perut bernyanyi (Terkutuk kau, Kothol!!!!).
Sumpah, bagi saya ini pelem kedua yang paling, amat, sangat, banget, buruk yang dimainkan oleh orang yang konon dahsyat. Sudah.
Ada pleidoi?
kontributor: kotho ben pundjabi
“Ya, kita nonton Ayat-ayat Cinta, ya?” rengek pacarku jauh sebelum film ini diputar. Pacarku, sebagaimana pacar-pacar siapa pun di hampir seluruh negeri ini tahu bahwa Ayat-Ayat Cinta sedang dalam proses penggarapan ke film waktu itu. Wong di kampungku, nun jauh di pesisir pantai Sumatera Barat yang aksesnya terbatas itu saja tahu bahwa ada Novel dasyat yang berjudul Ayat-ayat Cinta. Yang ini aku yakin, mereka tahunya dari acara infotaiment yang digemari nyaris sebagian besar mabnusia Indonesia.
Tak lama berselang, (cieeh.. bahasanya) film itu diputar juga. Aku sudah baca resensinya di Kompas minggu yang ditulis Susi Ivvanti (kira-kira begitulah namanya) yang kemudian aku tahu bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan besar dalam menceritakan alur film tersebut. Susi, dalam resensinya bercerita bahwa Nurul menuduh Fahri memperkosanya, yang baik dalam novel dan filmnya tokoh itu bernama Noura. Adakah karena kedekatan nama tersebut membuat Susi lupa dan media sebesar Kompas luput mengeditnya. Atau jangan-jangan Mbak Susinya belum tahu itu novelnya. Kha..kha..kha..
Demikianlah, sebagaimana yang ditakdirkan aku menantang pacarku. “Gimana, hari ini diputar perdana loh, mau nonton gak.” Kataku pada sang pacar. Sumpah, di kantongku hanya ada uang tujuh ribuan saja yang hanya bisa untuk sekedar makan malam saja.
“Gak lah. Pasti antri. Lagi pula mahal,” tolaknya.
“Lalu?”
“Kita tunggu saja CD-nya. Paling bentar lagi yang bajakan pasti ada.”
Dan batallah kami ke Ambarukmo Plaza Jogja dan jadilah aku makan malam yang lebih enak sendirian.
Ramalannya sepenuhnya benar. Beberapa hari kemudian, ketika filmnya masih diputar di bioskop, kawan tetangga kamarku datang menenteng dua keping CD.
“Ayat-ayat cinta,” teriaknya. “Cuma boleh minjam sehari saja.”
Apa lacur. Banyak yang antri. Pelem baru lagi. Kami sepakat akan menontonnya sehabis magrib.
Meski bajakan, saudara; dengan mutu gambar dan suara yang lumayan parah, toh aku bisa juga menikmati keseluruhan ceritanya. Nanti, pada bagian akhir CD kedua, film ini tak sepenuhnya selesai. Ending yang aku ketahui hanyalah ketika Aisya kembali ke rumah dan Maria tersenyum di balik pintu. Disk ketiganya aku dapatkan juga di sebuah warnet, ketika aku hendak mengoleksi film-film porno sebelum pemerintah turun tangan mengenyahkan barang-barang tersebut. Selebihnya yang bersisa hanya gerutu dan kekesalan.
Betapa tidak, lihatlah Fahri, tokoh kita yang satu ini. Betapa pasifnya dia sebagai bintang utama. Nyaris dalam keseluruhan film ia tampak diam dan menunduk. Karakter muslim pun tidak sempurna melekat pada dirinya. Tak ada janggut, tak ada pakaian dan sikap yang mencerminkan dia anak al-Azhar kecuali pada bagian di mana dia tak mau bersalaman dengan perempuan lalu dia tampak khusuk di tempat yang remang, pengajian. Ha..., Ndika Mahrendra, temanku penyair itu saja lebih terlihat lebih Islami ketimbang dia. Atau mungkin lebih pas An Ismanto yang berperan menjadi Fahri.
Lalu Maria sebagai gadis Kairo dan Aisya sebagai gadis Jerman tak terlihat karakternya sekali. Belum lagi bahasa yang mereka gunakan, bahasa Indobnesia yang Jakarta banget. Kesan bahasa ini sepenuhnya amat mengganggu. Kita seolah menonton film yang sedang di dubbing. Tiap awal adegan, kita ditawarkan pada bahasa Arab sebagai pengantar, seolah memaksa kita untuk menyadari bahwa “Ini di Mesir lo, ihwan-ahwat!” Saya seperti melihat film yang ditayangkan Indosiar tentang legenda-legenda itu. Kenapa tidak sekalian bahasa Arab saja? Kenapa hanya bahasa-bahasa pengantar saja menggunakan bahasa Arab? Kalo yang itu, tak usah jauh-jauh ke Mesir segala. Di sini, main saja ke markas organisasi-organisasi Islam, bahasa semacam itu bukan barang baru lagi, kok. Aku tak habis pikir juga, bagaimana para pemain yang diwawancarai itu bilang, itu karena kursus bahasa Arab lah dan semacamnya. Gus Muh saja lancer kok kalau cuma bicara “ikhwan-akhwat-afwan-ukhti-dsb” semacam itu.
Aisyah, kita kembali pada cewek cantik ini. Dalam resensi di situs resminya saya dapatkan keterangan semacam ini, “Aisha, 25 th (Rianti Cartwright). Mahasiswi asing keturunan Jerman dan Turki, cerdas, cantik dan kaya raya. Latar belakang keluarganya yang berliku mempertemukan dirinya dengan Fahri.” Indo Jerman Turki? Terwakilikah karakter ini menurut saudara? Lalu soal kaya rayanya itu lo. Saya tidak menemukan hubungan kekayaannya dengan jalinan cerita yang dibangun. Apakah kekayaan itu ingin ditampilkan ketika Fahri dalam penjara dan dia berusaha menyelamatkan sang suami dan menghabiskan banyak uang? Di sini pun, siapa pun akan melakukan hal yang sama, saya rasa. Meskipun harus menggadai sawah dan tanah mereka.
Kesan Islami pada perempuan ini hanya muncul ketika dia masih gadis saja. Begitu menikah, dia terlihat menjengkelkan dan pongah. Sikapnya pada sang suami juga tak terlampau mewakili bahwa dia istri yang baik dan santun. Dialog-dialog dia dengan fahri di amna dia mengganti komputer tua lakinya dengan laptop misalnya atau ketika mereka bersoal akan tinggal di mana, malah terlihat sikap sombong dan arogan.
Dan kematian Maria. Betapa terburu-buru digarap. Ketika dia menikah dengan Fahri, dalam waktu sekejap dia sembuh dari sakit yang parah. Tapi begitu menceritakan kematiannya, dalam waktus sekejab dia meninggal dunia. Wah... takdir bung, takdir, teriak kawan jengkel.
Lalu mengenai gadis Nurul binti Ja'far Abdur Razaq yang berasal dari Jawa Timur ini, kehadirannya di film sama sekali tidak mempengaruhi jalan cerita. Dia hadir atau tidak saya pikir sama saja. Justru kehadiran tokoh ini membuat saya harus berkomentar buruk lagi. Betapa tidak, tak terlihat keakrabannya dengan Fahri, tiba-tiba saja, entah karena apa dia kagum, jatuh cinta, dan hendak menikahinya. Dan tiba-tiba saja ngambek dan marah. Kenapa dia? Ada bagian yang dipotong lembaga sensor ya?
Sudahlah, sudah begitu banyak resensi mengenai ini saya kira. Kritik dan pujian tentu saja. Benar itu semua. Saya juga ingin berkata, mana Mesirnya? Apa yang khas selain kacamata hitam dan keranjang Maria? Tokoh-tokoh yang berperan jadi orang Mesir pun sepertinya dimainkan oleh orang-orang India Pasar Baru. Soal bahasa dan seting yang terburu-buru digarap dan melupakan detail soal Mesir dan sebagainya semakin memperparah cerita ini. Atau tengoklah ketika Fahri meraung-raung di penjara dan seorang kawan terpidana lainnya menghajarnya dengan nasehat. Mahasiswa S2 itu pun tersadarkan oleh napi yang tak diketahui indentitasnya itu, apakah dia seorang rektor atau kyai sebelumnya?
“Tak bisa. Ndak layak itu. Tidak masuk akal,” giliran pacar saya yang marah melihat Fahri yang tiba-tiba tersadarkan. “Semula dia hero, membela perempuan Barat di bis dengan firman Tuhan, kok tiba-tiba justru disadarkan oleh seorang narapidana yang tak jelas semacam itu?” kembali dia meradang.
“Kebenaran datangnya kan dari mana saja. Kita juga bisa belajar dari orang-orang semacam itu. Orang-orang yang tak diduga dan luput dari amatan kita,” saya mencoba membela.
“Tapi merusak logika filmnya tau,” pacar saya mengaum lebih keras dan mulai tak terkendali. Kalau sudah begini saya lebih baik diam saja.
Tapi begitulah. Sebuah film dan Indonesia pula, tentu tak habis dibicarakan segala kekurangannya. Jika boleh memuji saya suka dengan ilustrasi musiknya, tetapi tidak dengan cerita dan setingnya. Itu saja.
Lalu suatu kali teman perempuan di kampus saya yang diakuinya sendiri jarang nonton film mengatakan kepada saya, “Pelem yang bagus itu ya kayak Ayat-ayat Cinta, Tauk!”
“O....” Dan saya pun melongo. Saya masih belum bisa menjawab ini tentang benar atau tidaknya. Permisi!
AYAT-AYAT CINTA (2008)
Pemain: Fedy Nuril, Rianti Cartwright, Sazkia Mecca, Melanie Putri, Carrisa Putri, Surya Saputra, Oka Antara
Penulis Naskah: Salman Aristo & Ginatri S. Noer dari Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy
Produksi: MD Pictures
Sutradara: Hanung Bramantyo
kontributor: kotho ben punjabi
“Aku mau film Endonesia saja. Yang cinta-cinta gitu,” kata seorang teman sambil menjulurkan uang 2000 perak kepada saya. Uang itu keluar setengah terpaksa dan ancaman yang jelas. 2000 kok mintanya macam-macam.
“Inneke Koesherawati mau?” kataku kesal.
“Ada po?” tanyanya.
“Pelem-pelem yang kayak betina gitu, atau Novel Tanpa Huruf R, Daun di Atas Bantal, Sumanto atau Mai heel(my hearth maksudnya) boleh juga, tuh.” Celoteh teman saya yang satu, sok cerdas. “Agak berat tuh. Tapi keren...”
“Kau dah nonton pelem-pelem yang kau sebut tadi?” tanyaku.
“Belum semua sih, paling juga Novel Tanpa Huruf er sama Daun di Atas Bantal. Keren abis. Saya sampai tidak mengerti jalan ceritanya,” katanya bangga. Oh, jadi pelem bagus itu pelem yang tak dimengerti ya? O, Tuhan, ampuni hamba dari dosa-dosa ini!
“Ha.. Cinta Pertama aja, Bunga Citra Lestari pemainnya.. yang Lagunya Sani..sani gitu. Orangnya, aktingnya, wuihh,.. mantap. Dia itu dulu sebenarnya....” kebiasaan dia kalau sudah ngomong selalu begitu. Entah menyombongkan kebohongannya atau dia memang terlalu pintar ndobisinnya? Sok tahu segalanya.
Jadilah malam itu satu pelem Indonesia, empat pelem luar, dan dua pelem porno teronggok di depan komputer.
Saya mengalah, teman-teman saya berebut nonton Cinta Pertama dan saya pindah kamar, liat Finding Neverland. Sesekali saya terbahak mendengar dialog pelem di seblah kamar yang ada kata-kata, “lu-gue, lu-gue"nya itu.
Pelem saya duluan selesai. Mereka belum. Sepertinya mereka nggak langsung tancep ke Cinta Pertama, tapi muter pelem porno lebih dulu. Aku mengintip. Duh mak, ini pelem apa sinetron? Begitu komentar saya pertama kali. “Gue tidak suka pelajaran sejarah waktu SMA. Lu gak tau kan? Berarti masih banyak yang lu belum tau tentang gue,” begitu kata si cewek yang bernama Alya itu. Dan aku tergelak besar. Tak suka sejarah? Kenapa? Tidak ada penjelasan bung. Sok-sokan aja kali, mengikuti selera penulis skenario yang sok paham situasi politik di tanah air ini.
Kesalku memuncak ketika ada dialog, kira-kira berbunyi begini, “Gue menyukai dia, seperti gue menyukai gerimis,” Alamak... sekatrok-katroknya saya, saya itu penyair juga. Tapi denger itu, mau muntah saya dengan penggalan yang sok dramatis ini. Aku menungging di depan komputer (terbayang kan kalo sy udah nungging?).
Saya dengar teman yang banyak omong tadi mulai sesegukan bawang bombay. “Yah udah kalau lu tak suka. Tapi jangan ganggu kesedihan gue dong.” Ha? Dia ngomong sudah pakai gue segala?
Bayangkan, sepanjang pelem itu diputar, yang kita tangkap adalah suasana muram dan kelam. Sebentar saja kita akan diingatkan pada setting film-film romantis Jepang atau Korea. Kapas berterbangan, daun berguguran, sementara angin tak terlihat keras sama sekali. Lalu hujan. Hujan di bulan Mei, Sapardi. Bukankah Mei adalah bulan di mana kemarau baru saja mengetuk pintu? Tapi di pelem itu, selama ujian akhir berlangsung sampai pengumuman kelulusan, hujan tak lepas-lepas dari adegan.
Pusat cerita adalah buku harian. Ini betul-betul mengutip adegan film Jepang, bergaya sama yang saya lupa judulnya. (Ira Komang Jageg, apa judulnya?) Belum lagi alur maju mundur, di mana buku tersebutlah yang bercerita. Tapi di pelem ini maju mundur alur ini makin mengacaukan imaji kita.
Izinkanlah saya sok cerdas menulisnya begini: cerita ini berpusat pada Alya dan buku hariannya. Waktu SMA dia jatuh cinta pada seorang pemain basket sekolah tapi tak bisa main basket.(Garingkan? Garing Nugroho kali). Selesai SMA si cowok kuliah ke kota lain, gak tau tu kemana. Trus adegan terputus panjang sekali. Tiba-tiba si cewek sudah bertunangan. Entah berapa tahun peristiwanya sejak mereka lulus SMA. Entah cowok dari mana pula yang jadi tunangannya itu. Tak ada penjelasan.
Setelah pertunanganan itu, suatu pagi si cowok datang ke rumahnya. “Alya lagi tidur tuh. Bangunin aja.”
Duh mak... lagi tidur aja dandanannya menor begitu apalagi bangun ya? Tidurnya gak di ranjang lagi. Semalaman dia tidur di luar kali... tapi kok gak masuk angin. Oh, Tuhan bagaimana ini.
Ketika dibangunkan, kepala si cewek miring ke kanan. Si cowok kaget. Adegan berpindah cepat ke rumah sakit. Ceweknya bunuh diri? No. katanya sih pendarahan otak gitu. Dan cerita mulai berputar-putar seperti itu. Mulai dari membaca diari, rasa cemburu, pencarian Sunny yang ternyata sudah menikah. Juga upaya Sunny membangunkan Alya.
Jangan bertanya banyak dan berharap lebih dari sini deh. Adegan yang sengaja dibikin suram, bahkan rumah sakit tampak seperti ruang jagal. Untung sutradaranya bukan Rizal Mantovani (betul gak nih namanya?). Bisa-bisa muncul bayangan putih dari balik kaca. Hiii.....
Keseluruhannya, ini pelem yang saya pikir konyol dan berlebihan. Anak muda Jakarta sekarang masa gak punya hp? Lalu nikmat cinta pertama seperti apa yang dipertahankan? Gak ada dialog dan gambar yang merujuk pada peristiwa istimewa sehingga patut dikenang dsb, dsb. Apa yang ingin disampaikan pada peristiwa ini? Dialognya yang sok romantis? Atau beberapa adegan tampak dibikin-bikin itu?
Bayangkan, si Alya sakit, pendarahan otak yang konon sudah lama dialaminya. Tapi demi tuhan yang maha pemaaf, tak ada adegan yang memperlihatkan dia kepayahan dan sakit. Dia melonjak-lonjak terus, tertawa-tawa, menangis, sedih, murung dan gembira dengan mimik yang nyaris sama. Lalu tiba-tiba entah karena apa penyebabnya, jadilah sepanjang cerita dia terbaring di rumah sakit yang pengap dan suram itu. Sepanjang cerita. Wuihh.. gila.
Atau simak adegan si cowok yang mengajarkan si cewek cara belajar yang efektif. Mulailah dia bercerita tentang sejarah di Eropa Timur... di kantin dan tengah malam pula. Jadilah sepanjang pelem ini diputar saya ngomong dan tertawa terus. Hampir setiap adegan selalu ada yang membuat saya tertawa.
Besoknya saya mengajak pacar saya menontonnya.
“Hus.. jangan cerewet. Jangan menonton dengan verbal, pakai rasa,” kata pacar saya sambil mengusap airmata. Sedih dia. Saya usap airmatanya itu. Hihihi, kok jadinya seperti pelem India.
Dan rasa, katanya, saudara. Rasa? Apakah saya harus melakukannya? Sekarang, sayang?
CINTA PERTAMA
Pemeran: Bunga citra lestari. Ben Joshua, Richard Kevin, Ratna ruchia
Sutradara: Nayato fio naula
Sekenario: Titin watimena
Produksi: Maxiuma fictured 2006
kontributor: agung be ha
Jujur!!! Ini film serius. Sangat-sangat serius. Hingga karena terlalu serius, Nagabonar (Deddy Mizwar) menarik-narik tangan patung Jendral Sudirman yang menghormat. Patung Jendral dengan ikat kepala dan mantel yang berdiri tegap menghormat entah kepada siapa.
“Siapa yang kamu hormati Jendral?” lanjut Nagabonar, “apa mobil-mobil itu?”
Saya sempat tertegun melihat adegan itu. La tiba-tiba kok saya kasihan pada Jendral Sudirman. Kok tiba-tiba saya ingat pepesan guru PMP, “Apa sumbangsihmu bagi negara?” Dan anehnya ada yang mengganjal di tenggorokan. Ada yang menggumpal dalam dada. Nafas saya tersengal. Di kelopak mata, seperti ada yang ingin keluar. Sesuatu itu saya tahan.
Saya malu mengeluarkannya. Sebab saya saat itu di 21. Apa kata dunia, jika saya sampai mengeluarkan sesuatu yang seperti buliran itu keluar. Apa kata cewek berparfum menggoda melihat lelaki di samping kanannya me....
Bioskop yang gelap menyelematkan saya dari malu. Dari ingus bening yang keluar dari hidung. Dari mew.... ah saya berhasil menahannya.
Mungkinkah saat nasionalisme saya tergugah? Waduh!!! Ini terlalu serius. Ngomongin nasionalisme di jaman Tukul Arwana tenar. Ngomongin nasionalisme di jaman tentara di sepelemparan ketapel dari Monumen Nasional lebih suka bergoyang dangdut daripada perang.
Tapi mungkin ini yang hendak disampaikan Babe Kalah Perang (Deddy mis-war) kepada penonton. Di tengah semarak film horor yang bikin terbahak. Bahwa, mungkin menurut Babe, Indonesia ini bukan saja hanya milik para pejuang, para tentara, dan para pahlawan. Tapi, barangkali, juga milik orang-orang yang dipilih Yang Maha Rahim lahir di tanah air ini: Indonesia. Dan generasi 3G ini sudah luntur nasionalismenya.
Ini juga bukan jamannya orang diteror dengan film horor. Tapi jaman Indonesia yang serius tapi juga bisa tertawa.
Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya pembaca, maaf jika dua paragraf di atas, saya terlalu serius. Tapi itu yang saya tangkap dan rasakan dari film ini. Film tentang kesenjangan nilai antar dua generasi. Tentang generasi Bonaga (Tora Sudiro) dengan jaman ketika Nagabonar yang mantan copet bisa jadi Jendral di jaman Revolusi Fisik.
Saya tak hendak berargumen masalah kesenjangan nilai antar generasi ini. Sebab kuping saya, yang sebulan sekali dikorek, (kadang juga lupa) ini masih bisa mendengar gadis disamping kiri saya di 21 ngomong sama yayangnya, “Yang apa dulu Nagabonar jadi Jendral?”
“Waduh!!! Mbaknya nonton Naganobar Jadi 2 pasti gara-gara pengaruh iklan,” batinku. Sejenak saya ingat pada kategori para penonton film di Janji Joni. Jika dikategorikan, Mbaknya ini pasti masuk golongan penonton berisik. Dan saya pun akan dicomot dan dimasukkan dalam kategori kritikus amatir. Weladalah!!! Saya kok main kategori-kategorian to ini.
Tapi tak apalah, sang dalang (sutradara) Pak Deddy Mizwar memang membuat saya jadi seperti itu. Membuat saya harus menilai, menimbang dan memutuskan. Bahwa dalam perkara dakwah, Pak Deddy seperti Sunan Kalijaga. Dia ceramah lewat seni dan budaya pertunjukan. Jika Sunan Kalijaga dulu dakwah dengan wayang kulit, maka Pak Deddy ini dakwahnya lewat wayang modern, film namanya.
Dan Wulan Guritno yang tampil anggun itu cuma pemain. Yang dia harus berperan m,enjadi wanita sempurna. Berparas ayu, cerdas, mulus (lemu tur alus, gemuk dan halus), punya mobil sedan mewah, tinggal di rumah mewah juga.
“Apa kata dunia?”
“Wahai lelaki!!! Diwajibkan atas kamu untuk ngiler pada wanita macam itu,” kata saya.
Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya!!! Maafkan saya, kritikus amatir ini, lancang mengkritik Pak Deddy. “Nagabonar jadi 2” memang bagus. Tapi gaya sinetron tetap saja ada. Seperti juga Mbak Wulan yang memerankan wanita sempurna itu. Juga tentang Mas Tora yang jadi executive muda. Dan Tukang bajaj harus ditampilkan dengan wajah memelas. Waduh!!! La kok kayak sinetron bikinan Om-om Punjabi. Nehik lah ya.
Jika boleh saya menilai, adegan terbaik dalam film ini adalah ketika Nagabonar berhasil mencopet jam tangan pengusaha Jepang.
Apa kata Nagabonar?
“Tak tahu lah Kau Bonaga, Jepang itu dulu merampas negeri kita lebih dari jam tangan ini.”
Itu baru satu contoh. Satu contoh adegan terbaik lainnya ketika film ini usai. Nagabonar yang tua, memerintahkan kepada Tora dan kawan-kawannya untuk segera membayar permadani Mushala. Semua pemuda itu tampak tergeragap. Lari tergesa-gesa.
Penonton di 21 itu pun terbahak. Entah apa yang mereka tertawakan. Sebab tawa itu segera reda. Lampu mulai di 21 itu pun dinyalakan. Penonton pun bubar.
Sekali peristiwa, ketika film itu usai, sehabis nonton film ini dua lelaki kebingungan cari pintu keluar di Ambarukmo Plaza. Mereka nyasar sampai di lower ground.
Mewekkah mereka?
Dua lelaki itu akhirnya meringis, setelah mereka melihat Jalan Solo, Yogyakarta. Jujur!!! Cerita ini tak mengada-ada.
Sutradara: Deddy Mizwar
Pemain: Deddy Mizwar, Tora Sudiro, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Uli Herdiansyah
Penulis: Musfar Yasin
Produksi: PT Gisela Citra Sinema (2007)