Showing posts with label USA. Show all posts
Showing posts with label USA. Show all posts

Bulu Dada James Bond

kontributor: arya “sim card” perdana

James Bond kita kali ini berbeda dengan James Bond yang dulu-dulu. Kalo dulu, Sean Connery atau Pierce Brosnan tampil kalem dan flamboyan, kini yang tampil Daniel Craig, pria Inggris yang-kata perempuan yang nonton sama saya: “Lambe-nya itu loh…. Jadi inget lolipop!”

Coba ingat-ingat lagi saat Connery atau Brosnan mengucap kalimat perkenalan khasnya, "My name's Bond. James Bond." Dengan setelan hitam yang rapi klimis licin, Bond ala Connery dan Brosnan memang elegan, charming, dan semerbak melati mewangi.

Tapi Bond cap Daniel Craig jauh beda. Ia kasar, ganas dan dingin. Berantakan, emoh mikir ruwet-ruwet. Dan satu yang penting, Bond generasi terbaru ini senang betul mengumbar bulu dada ke penonton. Para penonton bisa bingung: Ini James Bond atau Rhoma Irama yang di pelem-pelemnya dulu juga doyan banget pamer bulu dada sambil nyanyi dan nari-nari!

Gara-gara sering lihat Bond pamer bulu dada inilah saya menemukan kesimpulan. Gini: bulu dada Bond yang diperankan Daniel Craig ini ternyata halus dan lurus sama kaya rambutnya, sementara bulu dada Rhoma Irama keriting ngglundung, sama juga kaya rambutnya yang ngglundung kriting. Kesimpulannya: kriting atau tidaknya bulu dada ditentukan oleh kriting atau tidaknya bulu rambut (mari kita bertanya pada Rudi Hadisuwarno yang bergoyang).

Perhatikan gayanya waktu pesan minuman martini. "Stir, not shake," bilang Bond versi Brosnan. Tapi Bond versi Craig dengan sengaknya ngomong , "stir or shake, I don't give a damn!". Hahaha. Benar-benar nggak nurut pakem si Bond satu ini.

Sebenarnya, inilah prekuel dari film-film Bond sebelumnya. Di sinilah dipaparkan kenapa agen Bond ini kok bisa jadi agen andalan MI-6, agen rahasia Inggris yang tentu saja bukan intel Melayu.

(PERINGATAN: INI BAGIAN SPOILER/BOCORAN FILM)

Ceritanya, Bond dikirim ke Madagaskar (ini saudara jauh Makasar). Ia diminta memburu seorang teroris pembuat bom bernama Mollaka (bedakan dengan Tan Malaka!), di kota Nambutu. Di sinilah terjadi adegan seru. Kejar-kejaran Bond vs Mollaka di crane yang tingginya naudzubillahi mindalik. Bond si agen MI-6 benar-benar nekat. Jantung saya berdebar lebih kencang saat kamera mengikuti aksi Bond bertarung di crane yang tingginya lebih dari 300 meter di atas tanah.

Mollaka ini menghubungkan Bond dengan Alex Dimitrios, pembantu dekat buruan utama Bond, pria dengan satu bola mata yang terbikin dari kaca, Le Chiffre. Dia pake sepatu biasa, sebab kalau sepatunya juga ikut-ikutan terbuat dari kaca, namanya pasti Cinderella.

Singkat cerita, Bond bikin gagal rencana Le Chiffre buat meledakkan sebuah pesawat saat sedang diluncurkan di kota Miami. Bond juga bisa membunuh Dimitrios (setelah sebelumnya hampir meniduri istri Dimitrios, Solange, yang tubuhnya bakal bikin lelaki normal maupun abnormal ngeces-ngeces kaya burung walet).

Bond pun terlibat taruhan gede-gedean lawan Le Chiffre di Casino Royale, Montenegro (negara yang dulu pernah begitu rasis tapi memakai kata Negro). Bond pake duit Pemerintah Inggris. Makanya, setiap pengeluaran Bond diawasi benar sama bendahara Vesper Lynd (Ini masih sepupuan sama pemilik pabrik motor Vespa), si gadis Bond yang agak keluar kebiasaan karena digambarkan sebagai wanita pintar (berarti yang sebelumnya nggak pinter donk? Kan gak penting, yang penting semok. Hihihi…).

Kembali ke laptop….

Ngaku-ngaku pinter main poker, Bond justru kalahan pada awalnya. Duitnya habis. Tekor. Minta duit lagi sama Vesper, eh nggak dikasih. Akhirnya, Bond dipinjami duit sama CIA. Entah gimana ceritanya, Bond pun menang poker (soalnya saya nggak ngerti cara main poker, ngertinnya main gaplek di pos ronda). Tapi Le Chiffre sukses menyandera Vesper dan memancing Bond buat main kejar-kejaran pake mobil sport di jalanan mulus berkelok di Montenegro.

Kayaknya, Bond ini nggak semahir supir metromini kalo soal kejar-kejaran pake mobil. Bond celaka dan ditangkap Le Chiffre. Bond ditelanjangi, disiksa, dan dipecuti. Ada humor segar saat Bond disiksa begini. Ia malah minta Le Chiffre buat memecut "biji"nya. Argggghhhhhhh....serem! Membayangkan sakitnya membikin perut saya mules tiba-tiba.

Toh, pertolongan buat Bond tiba juga. Sosok misterius bernama Mr White muncul dan membunuh Le Chiffre. Bond pun berlibur sama Vesper-yang akhirnya jadi pacarnya-di Italia.

Di ujung cerita, peran Vesper dan Mr White pun kemudian terungkap. Siapa sebenarnya mereka akhirnya diketahui Bond. Film ditutup dengan adegan berisi tagline populer yang sudah saya sebut di atas: "My name's Bond. James Bond".

SPOILER/BOCORAN FILM BERAKHIR DI SINI

Gampang buat menggambarkan kesenangan nonton film Bond di bioskop. Adegan seru, desing peluru saat adu pistol, kejar-mengejar dengan mobil sport mahal, perempuan-perempuan bahenol yang bakalan nangkring di otak untuk setidaknya 1 pekan ke depan, dan gambaran akhir bahwa kebaikan akan menang melawan kejahatan.

Itulah sebabnya nonton James Bond itu terasa komplit. Adegan kebut-kebutan dan tembak-tembakkan akan menyeret pada memori daun pisang (hehehehe), persisnya memori masa kecil yang senang tembak-tembakan. Sementara adegan belai-belaian cewek seksi mengingatkan kita pada adegan beberapa hari silam di kamar kost atau di Paragkusumo. (baca dengan ekpresi mengedipkan mata: “Twink… twink….” Sambil lirik Ismanto tentu saja!)

Judul: Casino Royale (2006)
Sutradara: Martin Campbell
Aktor: Daniel Craig, Eva Green, Mads Mikkelsen, Jesper Christensen, Caterina Murino
Produser: Michael G Wilson

Takutnya Beda Banget dengan Rahasia Ilahi

kontributor: isman tho le'

Nonton ini felem Apocalypse Now memang bikin takut. Gak percaya? Tonton aja sendiri. Di situ nanti kita bisa lihat gimana orang pinter-pinter kok jadi sakit jiwa gara-gara perang. Saya jadi takut pinter gara-gara nonton felem ini. Bayangkan, Marlon Brando, pemeran Kolonel yang mesti dibunuh tokoh utama itu, tahu dan hapal puisinya TS Eliot: “The Hollow Man”: ... We are the hollow man. Terus ada lagi lagunya The Doors, The End: This is the end, my only friend, the end, of all our elaborate plan, the end.

Saya jadi mikir, kalau begitu, buat apa saya baca banyak-banyak buku, lihat lukisan, banyak nulis, nonton felem-felem bermutu maupun yang gak bermutu, mencintai musuh-musuh saya, kalau akhir-akhirnya saya nanti jadi orang superpinter kayak sang kolonel itu, tetapi sakit jiwa?

Pokoke felem ini bikin takut, tapi takut yang asyik dan cerdas (hehehe, ada juga jenis takut!!). Jenis yang ini ni bukan takut kayak kalau nonton felem horor jaman sekarang yang sama sekali gak hororable, tapi malah hornible (abis ceweknya cakep-cakep). Mo dibandingkan apa lagi: Suster Ngesot atau Rahasia Ilahi. Aduh, kok jeglek sekali bandingannya.

Ceritanya, ada seorang tentara, pangkatnya kapten AD Amerika, ditugasi mencari seorang kolonel jenius yang menjelma jadi pembunuh berdarah dingin. Ketemu, dan si tokoh utama berhasil membunuh kolonel itu. Mission accomplished, tapi jiwa sang kapten not accomplished.

Gimana gak? Dia sempat ngobrol sama si kolonel, dan dia jadi tahu alasan kenapa si kolonel berubah jadi pembunuh. Alasan yang bisa dibilang masuk akal bisa juga dibilang gak masuk akal, tapi tetap nyambung (pokoke nyambung, gak tahu gimana. Pokoknya nyambung dan saya juga dikit bingung).

Sekali lagi, the last (sumpah deh), felem ini memang bakal bikin penontonnya takut, takut kepada diri sendiri, karena kita jadi sadar bahwa kita yang selama ini mengagungkan diri sebagai makhluk mulia, pilihan Tuhan, gak taunya juga punya sisi-sisi gelap yang tidak diakui oleh peradaban kita.

Padahal, apa susahnya sih mengakui sisi-sisi gelap itu? Bukankah kita terus bisa tahu apa yang kurang pada diri kita, terus kita bisa memperbaikinya (ceile... sok pilsup).

He he he, sori, yang ini bener-bener terakhir. Nonton ini felem memang bikin takut. Gak percaya? Tonton aja sendiri. Menyebalkan ya ulasan saya. Kalau iya, maapin deh.

Judul: Apocalypse Now
Sutradara: Francis Ford Coppola
Pemain: Martin Sheen, Marlon Brando, Robert Duvall, Harrison Ford, dll
Produksi: Zoetrope Studio, 1979

Mon... Jadi Intel Kok Kamu Tetap Ganteng, Toh?

kontributor: maulida(n)abi

Matt Damon. Wajah gantengnya hilang di balik karakter dingin Edward Wilson, dedengkot agen kontraintelijen pada Central Intelligence Agency (CIA). Walaupun kegantengannya seperti hilang, paling gak masih ganteng dari rata-rata intel Melayu. Intel CIA gitu loch...

Simaklah perkataan Brocco, asistennya saat akan mulai bekerja. Saat itu Brocco tidak diberi tahu siapa nama bos yang akan ditemuinya. Wilson bertanya bagaimana Brocco tahu bahwa ia tidak salah orang. Jawabnya, “They said you were a serious SOB that didn't have any sense of humor. There can't be two of you.”

SOB ini artinya Son of Bitch. Kalau dia intel Melayu, pasti kodenya bukan SOB tapi AJ (Anak Jablay). Kalo kebetulan dia intel kelahiran m’Bantul, kodenya pasti jadi AK (Anak’e Keple).

Sikap dingin Wilson tampaknya seiringan dengan dinginnya hubungan Amerika-Soviet. Saking datar dan lambatnya, saya menghentak-hentakkan kaki saya di bioskop gara-gara bosan. Tapi masih gak separah cewek-cewek di film India yang nggoseh-nggoseh di tanah sambil menghamburkan gerimis air mata.

Film ini sungguh datar. Bayangkan, selama 2 jam saya menonton film dengan dialog yang membutuhkan konsentrasi. Alurnya pun maju-mundur-maju-mundur tapi gak kena-kena (emang film warkop DKI: Maju Kena Mundur Kena)

Kepusingan saya bertambah karena jaringan 21 memotong beberapa adegan, mungkin karena aslinya kepanjangan, 160 menit. Bagaimana saya tahu? Tentu saja setelah menontonnya ulang dari DVD bajakan. Oya, suasana di bioskop saat itu masih ditambah ulah Seni Apriliya, teman saya yang tidak berhenti mengoceh, “aku mah ga ngerti, aku mah pusing.”

Belum lagi ocehan senada dari lelaki yang duduk di sebelah yang bergumam nyaris sama, “Aku pah ga ngerti, aku pah pusing.”

Jadilah sebelah kanan kiriku seperti dialog sinetron Indonesia: Pah... Mah... Pah... Mah.... Papah... Mamah.....

Tapi bosan dan bingung itu ternyata diselipi kekaguman atas akting Damon. Tidak bisa tidak. Ia berhasil menghidupkan tokoh Edward Wilson, tokoh rekaan di tengah fragmen kelahiran agensi intelijen mata-mata terbesar. Selain kesempurnaannya dalam dunia spionase, Damon juga berhasil memunculkan konflik pribadinya dengan istri dan anaknya yang traumatik.

Film ini juga menggambarkan betapa tak enaknya sebuah keluarga yang dikepalai oleh lelaki yang juga seorang intel. Gimana gak sebel, “Polisi Tidur” aja udah menyebalkan, apalagi ini intel yang gak pernah tidur. Fuihh!

Semua ini bermula dengan bergabungnya Wilson dalam Skull and Bones, perkumpulan rahasia di Universitas Yale. Namanya “ditemukan” Federal Bureau Intelligence (FBI) untuk kemudian diminta memata-matai guru sekaligus dekan sastra, Fredericks, yang ditengarai dekat dengan Jerman pada Perang Dunia II.

Setelah tugas pertama, ia kemudian direkrut pada perang dunia dan berlanjut di perang dingin. Dari mata Wilson, kita bisa melihat Amerika dan Uni Soviet saling meracik formula yang paling baik untuk dihidangkan. Tidak berhadapan, tidak pula di negaranya masing-masing. “Pertempuran” itu terjadi di Jerman, di Kuba, atau negara lain.

Edward Wilson tentu agen tangguh, tidak mudah tergiur atau terancam, dan setia pada agensi (serta negara). Juga gak tergiur sama perempuan macam James Bond. Ini bedanya dengan intel melayu yang “digoda” para penari yang cuma pakai cawat doang aja udah gelap mata, padahal para penari itu anggota RMS. Iya toh? Hooh toh?

Sesuai dengan biasanya, Hollywood memunculkan tokoh yang patriot. Dan fasis juga kalau di mata saya. Sikap fasis khas Amerika itu dapat terlihat dari dialognya dengan Jimmy Palmi, imigran Italia sekaligus kriminal yang segera dideportasi.

Palmi: Let me ask you something. We Italians we got our families and we got the church. The Irish they have their homeland. The Jews, their trdition. Even the Niggers they got their music. What about you people, Mr. Carlson? What do you have?

Wilson: (Diam sejenak) The United States of America. The rest of you are just visiting.

Kisah patriotik Wilson berbeda dengan agen lain yang penuh pengkhianatan. Dengan mudah seorang agen bisa berubah pikiran dan menyeberang. Hari ini kawan, besok jadi pacar, lusa jadi istri dan entah apa lagi. Orang-orang datang dan pergi... oh begitu saja (Loh kok jadi nyanyi Letto?)

“Jangan percaya siapapun” adalah ayat ampuh pada bibel seorang intel. Mereka memegang teguh itu. Dan Wilson terus maju dengan pilihan yang diambilnya. Ia berusaha menjadi ayah sekaligus agen yang baik. Tentu, tentu saja ia tak mampu mendapat semuanya. Ia membayar dengan pengorbanan besar. Keluarganya sendiri. Mengharukan. Mirip film India ya? Hiks... hiks....

Menonton The Good Shepherd, kita bisa tahu bahwa kesempurnaan berarti kesendirian. Seorang agen Inggris yang kemudian di pihak Soviet, Arch Cummings, mengutip sebuah puisi Irlandia. A friend for today is tomorrow's heartbreak. Sebuah larik yang mewakili lakunya.

Di atas semua itu, Matt Damon tetap tampil dengan ganteng. Aku berdesir-desri tiap kali matanya menatap lurus ke dapan dengan tajam.

Oh, Mon... wajahmu itu loh....


Judul Film The Good Shepherd
Sutradara Robert de Niro
Aktor Matt Damon, Angelina Jolie, Alec Baldwin, Robert de Niro, Tammy Blanchard, Michael Gambon
Produser Jane Rosenthal