Maaf, Saya Hampir Me*ek

kontributor: agung be ha

Jujur!!! Ini film serius. Sangat-sangat serius. Hingga karena terlalu serius, Nagabonar (Deddy Mizwar) menarik-narik tangan patung Jendral Sudirman yang menghormat. Patung Jendral dengan ikat kepala dan mantel yang berdiri tegap menghormat entah kepada siapa.

“Siapa yang kamu hormati Jendral?” lanjut Nagabonar, “apa mobil-mobil itu?”

Saya sempat tertegun melihat adegan itu. La tiba-tiba kok saya kasihan pada Jendral Sudirman. Kok tiba-tiba saya ingat pepesan guru PMP, “Apa sumbangsihmu bagi negara?” Dan anehnya ada yang mengganjal di tenggorokan. Ada yang menggumpal dalam dada. Nafas saya tersengal. Di kelopak mata, seperti ada yang ingin keluar. Sesuatu itu saya tahan.

Saya malu mengeluarkannya. Sebab saya saat itu di 21. Apa kata dunia, jika saya sampai mengeluarkan sesuatu yang seperti buliran itu keluar. Apa kata cewek berparfum menggoda melihat lelaki di samping kanannya me....

Bioskop yang gelap menyelematkan saya dari malu. Dari ingus bening yang keluar dari hidung. Dari mew.... ah saya berhasil menahannya.

Mungkinkah saat nasionalisme saya tergugah? Waduh!!! Ini terlalu serius. Ngomongin nasionalisme di jaman Tukul Arwana tenar. Ngomongin nasionalisme di jaman tentara di sepelemparan ketapel dari Monumen Nasional lebih suka bergoyang dangdut daripada perang.

Tapi mungkin ini yang hendak disampaikan Babe Kalah Perang (Deddy mis-war) kepada penonton. Di tengah semarak film horor yang bikin terbahak. Bahwa, mungkin menurut Babe, Indonesia ini bukan saja hanya milik para pejuang, para tentara, dan para pahlawan. Tapi, barangkali, juga milik orang-orang yang dipilih Yang Maha Rahim lahir di tanah air ini: Indonesia. Dan generasi 3G ini sudah luntur nasionalismenya.

Ini juga bukan jamannya orang diteror dengan film horor. Tapi jaman Indonesia yang serius tapi juga bisa tertawa.

Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya pembaca, maaf jika dua paragraf di atas, saya terlalu serius. Tapi itu yang saya tangkap dan rasakan dari film ini. Film tentang kesenjangan nilai antar dua generasi. Tentang generasi Bonaga (Tora Sudiro) dengan jaman ketika Nagabonar yang mantan copet bisa jadi Jendral di jaman Revolusi Fisik.

Saya tak hendak berargumen masalah kesenjangan nilai antar generasi ini. Sebab kuping saya, yang sebulan sekali dikorek, (kadang juga lupa) ini masih bisa mendengar gadis disamping kiri saya di 21 ngomong sama yayangnya, “Yang apa dulu Nagabonar jadi Jendral?”

“Waduh!!! Mbaknya nonton Naganobar Jadi 2 pasti gara-gara pengaruh iklan,” batinku. Sejenak saya ingat pada kategori para penonton film di Janji Joni. Jika dikategorikan, Mbaknya ini pasti masuk golongan penonton berisik. Dan saya pun akan dicomot dan dimasukkan dalam kategori kritikus amatir. Weladalah!!! Saya kok main kategori-kategorian to ini.

Tapi tak apalah, sang dalang (sutradara) Pak Deddy Mizwar memang membuat saya jadi seperti itu. Membuat saya harus menilai, menimbang dan memutuskan. Bahwa dalam perkara dakwah, Pak Deddy seperti Sunan Kalijaga. Dia ceramah lewat seni dan budaya pertunjukan. Jika Sunan Kalijaga dulu dakwah dengan wayang kulit, maka Pak Deddy ini dakwahnya lewat wayang modern, film namanya.

Dan Wulan Guritno yang tampil anggun itu cuma pemain. Yang dia harus berperan m,enjadi wanita sempurna. Berparas ayu, cerdas, mulus (lemu tur alus, gemuk dan halus), punya mobil sedan mewah, tinggal di rumah mewah juga.

“Apa kata dunia?”

“Wahai lelaki!!! Diwajibkan atas kamu untuk ngiler pada wanita macam itu,” kata saya.

Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya!!! Maafkan saya, kritikus amatir ini, lancang mengkritik Pak Deddy. “Nagabonar jadi 2” memang bagus. Tapi gaya sinetron tetap saja ada. Seperti juga Mbak Wulan yang memerankan wanita sempurna itu. Juga tentang Mas Tora yang jadi executive muda. Dan Tukang bajaj harus ditampilkan dengan wajah memelas. Waduh!!! La kok kayak sinetron bikinan Om-om Punjabi. Nehik lah ya.

Jika boleh saya menilai, adegan terbaik dalam film ini adalah ketika Nagabonar berhasil mencopet jam tangan pengusaha Jepang.

Apa kata Nagabonar?

“Tak tahu lah Kau Bonaga, Jepang itu dulu merampas negeri kita lebih dari jam tangan ini.”

Itu baru satu contoh. Satu contoh adegan terbaik lainnya ketika film ini usai. Nagabonar yang tua, memerintahkan kepada Tora dan kawan-kawannya untuk segera membayar permadani Mushala. Semua pemuda itu tampak tergeragap. Lari tergesa-gesa.

Penonton di 21 itu pun terbahak. Entah apa yang mereka tertawakan. Sebab tawa itu segera reda. Lampu mulai di 21 itu pun dinyalakan. Penonton pun bubar.

Sekali peristiwa, ketika film itu usai, sehabis nonton film ini dua lelaki kebingungan cari pintu keluar di Ambarukmo Plaza. Mereka nyasar sampai di lower ground.

Mewekkah mereka?

Dua lelaki itu akhirnya meringis, setelah mereka melihat Jalan Solo, Yogyakarta. Jujur!!! Cerita ini tak mengada-ada.

Sutradara: Deddy Mizwar
Pemain: Deddy Mizwar, Tora Sudiro, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Uli Herdiansyah
Penulis: Musfar Yasin
Produksi: PT Gisela Citra Sinema (2007)

Dari Bolly ke Holly Lalu Singgah di Pasar Senen

kontributor: titik khan kartinehi

Suatu siang yang mengantuk. Saya datang ke lantai empat, redaksi majalah life style.

“VCD apaan tuh ?” tanya seorang teman yang bergaya alumni Wanadri padahal bukan sama sekali. Sepatu tracking, celana lapang tambalan sekana abis dibarut tebing Himalaya plus pisau lipat Victorinox yang selalu menggantung di celana.

“Ashoka,” jawabku.

“Yang main siapa?”

“Shah Rukh Khan.”

“Hua..ha..ha..ha...nehi..nehi...nehi...” gelak temanku itu diikuti gerakan mengangkat satu tangan sembari menekuk lutut. Yang lainpun jadi ribut. Barangkali nama Shah Rukh Khan seperti aib jika disebut di lantai yang selalu meresensi film Hollywood itu.

Dia mengambil VCD dari tanganku lalu menyetelnya dengan ekspresi ingin mencari hinaan yang lebih ampuh.

Sebuah pedang melayang menembus sarang burung, menancap di tanah dengan bercak darah dan bulu yang melayang pelan. Orkestra bernada minor mengalun. “Pedang yang lepas dari sarungnya selalu akan mencari mangsa...” Seorang anak dengan tatapan shocked melihat bulu burung yang melayang pelan.

Teman saya duduk di kursi dengan tangan bersedekap

Setting kerajaan Magadha 273 SM – 232 SM. Perebutan tahta. Seorang perempuan tua yang nampak bijak bertapa membisu. Ashoka (Shah Rukh Khan) harus pergi meninggalkan kerajaan karena sang ibu selir itu tidak ingin ada pertumpahan darah. Pertarungan antara Pangeran Sushima yang ambisius dan Pangeran Ashoka harus dibatalkan. Di India, seorang ibu begitu berwibawa. Ashoka-pun menurut. Menanggalkan atribut kerajaan, berpakaian rakyat jelata dengan kadi dan celana kombornya, berkuda putih, sang pangeran meninggalkan gerbang kerajaan.

Muncul screen Kalinga Border. Banyak anak-anak berkepala botak sedang tersenyum riang. Shah Rukh Khan memotong rambutnya yang semula gondrong. Menjadi pendek rapi dan murah senyum. Sembari membagikan buah-buahan kepada para bikhu cilik itu.

“Kau orang baru di sini. Tetapi sinarmu takkan tertutupi oleh awan,” kata seorang bikhu tua.

“Hemmm..apakah saya seorang pangeran dengan pedang panjang. Atau seorang maharaja?!” canda Shah Rukh sembari menirukan lagak pendekar.

“Nasibmu lebih baik dari maharaja.”

“Wow... siapakah yang lebih baik dari seorang maharaja?”

“Seorang musafir yang telah mengakhiri perjalanannya,” kata bikhu itu sembari menjauh. Suara lonceng berdentang. Senja pun berubah menjadi malam.

Ketika layar memancarkan cahaya. Muncul hamparan pegunungan nan hijau. Kareena Kapoor menari dengan baju seksi.

‘San sanana Na Na...Ja Ja Re Ja Re ... Ja Ja Re Ja...Ja Re Pawan...’

Teman saya nyengir. Beranjak menyedu teh. Dengan asap panas mengepul di gelas, teman saya itu kembali duduk tersenyum lebar. Kurasa, dia telah menemukan fragmen hinaan yang lumayan.

Ashoka mengajari Putri Kaurwaki (Kareena Kapoor) yang saat itu sedang dalam pelarian, untuk memainkan pedang.

“Pandanglah musuh di satu titik. Pedang harus menyatu dengan jiwa. Gerakannya senafas dengan nafas kita...” Jurus-jurus pedang layaknya The Last Samurai.

Teman saya duduk memegang dagu. Satu teman yang lain ikut duduk.

Adegan perpisahan yang membuat terharu bombay bombay.

“Saya harus pergi. Ibu saya sakit,” kata Ashoka yang menyamar menjadi warga biasa dengan nama Pawan. “Percayalah, aku akan kembali menjemputmu. Dengan ribuan kuda dan ratusan gajah. Kau adalah ksatria putriku.” Lagu sendu mengalun. Mereka pun tak lagi pernah bertemu. Ashoka menemukan tempat persembunyian Kaurwraki telah menjadi abu. Ashoka mengira, Kaurawki mati dengan tragis. Ashoka kembali ke watak semula. Menjadi beringas dan tak terkendali. Pembunuh yang keji. Penakluk yang ambisius.

Teman saya melupakan tehnya. Wajahnya kaku menatap layar monitor. Teman yang lain melongo dengan wajah paling bloon yang pernah ditunjukkan.

Puluhan ribu tentara. Ribuan kuda. Ratusan gajah. Berkumpul dalam satu pertempuran. Antara Magadha dan Kalingga. Panglima perang yang gagah berani. Shakh Rukh Khan dengan rambutnya yang tiba-tiba gondrong, berhadapan dengan prajurit Kalinga. Tanpa sepengetahuan si Shakh Rukh..bahwa pemimpin pasukan Kalingga adalah Kaurwaki.

Di antara bangkai yang berserakan. Kereta yang patah rodanya. Senjata yang kehilangan tuannya. Ashoka berdiri dalam sunyi.
“Aku telah memenangkan pertempuran. Tetapi sebenarnya aku telah kalah...” Tokoh kita menunduk. Di antara setting bekas pertempuran yang mengerikan layaknya Brave Heart. Hingga tiba-tiba Kaurwaki muncul. Dengan amarah yang meluap. Kekecewaan yang tiada tara. Lalu roboh di tanah. Mereka berpelukan. (penonton tersenyum.. hiks seandainya itu gue gitchu loh..). Kemudian muncul anak kecil. Pangeran Arya, calon pemegang tahta Kalinga.

“Pawan, apakah pangeran itu jadi kembali? Dengan ribuan kuda dan ratusan gajah. Apakah pangeran dan putri itu akhirnya menikah ? apakah mereka hidup bahagia ?”

Wajah garang Shakh Rukh Khan lenyap diganti uraian airmata.

“Ya..mereka hidup bahagia.” Brug. Bocah laki-laki itu roboh tengkurap. Di punggungnya puluhan anak panah menancap. (Mati lo !) Film selesai.

Ashoka. Film yang diproduksi dan disutradarai Shakh Rukh Khan. Settingnya keren. Humornya canggih. Yang melibatkan ribuan orang, 6.000 kuda, dan 400 gajah. Menjadikan Ashoka sebagai film kolosal terbesar abad ini....

“Gila...ini sekelas Hollywood...gila....!” teriaknya sembari menatap layar yang menampilkan nama-nama kru film dalam huruf berjalan, seakan berharap tiba-tiba film itu muncul sekuelnya. Atau bersambung seperti sinetron ‘Tersanjung’ yang sambung menyambung itu. Lama ia tercenung sembari geleng-geleng kepala.

“Dimana lu beli ?”

“Pasar Senen... nape ?”

Temanku melongo. Nah lo!

“Lo kok abis. Sambungannya mane.”

“Sambungannye ya, kopaja itu lu tahan trus pulang deh peluk2 bantal. Hehehehe.”

Judul: Ashoka
Produksi: Bollywood, 2001
Sutradara: Santosh Sivan
Produser: Shah Rukh Khan
Pemain: Shah Rukh Khan, Kareena Kapoor