kontributor: maulida(n)abi
Matt Damon. Wajah gantengnya hilang di balik karakter dingin Edward Wilson, dedengkot agen kontraintelijen pada Central Intelligence Agency (CIA). Walaupun kegantengannya seperti hilang, paling gak masih ganteng dari rata-rata intel Melayu. Intel CIA gitu loch...
Simaklah perkataan Brocco, asistennya saat akan mulai bekerja. Saat itu Brocco tidak diberi tahu siapa nama bos yang akan ditemuinya. Wilson bertanya bagaimana Brocco tahu bahwa ia tidak salah orang. Jawabnya, “They said you were a serious SOB that didn't have any sense of humor. There can't be two of you.”
SOB ini artinya Son of Bitch. Kalau dia intel Melayu, pasti kodenya bukan SOB tapi AJ (Anak Jablay). Kalo kebetulan dia intel kelahiran m’Bantul, kodenya pasti jadi AK (Anak’e Keple).
Sikap dingin Wilson tampaknya seiringan dengan dinginnya hubungan Amerika-Soviet. Saking datar dan lambatnya, saya menghentak-hentakkan kaki saya di bioskop gara-gara bosan. Tapi masih gak separah cewek-cewek di film India yang nggoseh-nggoseh di tanah sambil menghamburkan gerimis air mata.
Film ini sungguh datar. Bayangkan, selama 2 jam saya menonton film dengan dialog yang membutuhkan konsentrasi. Alurnya pun maju-mundur-maju-mundur tapi gak kena-kena (emang film warkop DKI: Maju Kena Mundur Kena)
Kepusingan saya bertambah karena jaringan 21 memotong beberapa adegan, mungkin karena aslinya kepanjangan, 160 menit. Bagaimana saya tahu? Tentu saja setelah menontonnya ulang dari DVD bajakan. Oya, suasana di bioskop saat itu masih ditambah ulah Seni Apriliya, teman saya yang tidak berhenti mengoceh, “aku mah ga ngerti, aku mah pusing.”
Belum lagi ocehan senada dari lelaki yang duduk di sebelah yang bergumam nyaris sama, “Aku pah ga ngerti, aku pah pusing.”
Jadilah sebelah kanan kiriku seperti dialog sinetron Indonesia: Pah... Mah... Pah... Mah.... Papah... Mamah.....
Tapi bosan dan bingung itu ternyata diselipi kekaguman atas akting Damon. Tidak bisa tidak. Ia berhasil menghidupkan tokoh Edward Wilson, tokoh rekaan di tengah fragmen kelahiran agensi intelijen mata-mata terbesar. Selain kesempurnaannya dalam dunia spionase, Damon juga berhasil memunculkan konflik pribadinya dengan istri dan anaknya yang traumatik.
Film ini juga menggambarkan betapa tak enaknya sebuah keluarga yang dikepalai oleh lelaki yang juga seorang intel. Gimana gak sebel, “Polisi Tidur” aja udah menyebalkan, apalagi ini intel yang gak pernah tidur. Fuihh!
Semua ini bermula dengan bergabungnya Wilson dalam Skull and Bones, perkumpulan rahasia di Universitas Yale. Namanya “ditemukan” Federal Bureau Intelligence (FBI) untuk kemudian diminta memata-matai guru sekaligus dekan sastra, Fredericks, yang ditengarai dekat dengan Jerman pada Perang Dunia II.
Setelah tugas pertama, ia kemudian direkrut pada perang dunia dan berlanjut di perang dingin. Dari mata Wilson, kita bisa melihat Amerika dan Uni Soviet saling meracik formula yang paling baik untuk dihidangkan. Tidak berhadapan, tidak pula di negaranya masing-masing. “Pertempuran” itu terjadi di Jerman, di Kuba, atau negara lain.
Edward Wilson tentu agen tangguh, tidak mudah tergiur atau terancam, dan setia pada agensi (serta negara). Juga gak tergiur sama perempuan macam James Bond. Ini bedanya dengan intel melayu yang “digoda” para penari yang cuma pakai cawat doang aja udah gelap mata, padahal para penari itu anggota RMS. Iya toh? Hooh toh?
Sesuai dengan biasanya, Hollywood memunculkan tokoh yang patriot. Dan fasis juga kalau di mata saya. Sikap fasis khas Amerika itu dapat terlihat dari dialognya dengan Jimmy Palmi, imigran Italia sekaligus kriminal yang segera dideportasi.
Palmi: Let me ask you something. We Italians we got our families and we got the church. The Irish they have their homeland. The Jews, their trdition. Even the Niggers they got their music. What about you people, Mr. Carlson? What do you have?
Wilson: (Diam sejenak) The United States of America. The rest of you are just visiting.
Kisah patriotik Wilson berbeda dengan agen lain yang penuh pengkhianatan. Dengan mudah seorang agen bisa berubah pikiran dan menyeberang. Hari ini kawan, besok jadi pacar, lusa jadi istri dan entah apa lagi. Orang-orang datang dan pergi... oh begitu saja (Loh kok jadi nyanyi Letto?)
“Jangan percaya siapapun” adalah ayat ampuh pada bibel seorang intel. Mereka memegang teguh itu. Dan Wilson terus maju dengan pilihan yang diambilnya. Ia berusaha menjadi ayah sekaligus agen yang baik. Tentu, tentu saja ia tak mampu mendapat semuanya. Ia membayar dengan pengorbanan besar. Keluarganya sendiri. Mengharukan. Mirip film India ya? Hiks... hiks....
Menonton The Good Shepherd, kita bisa tahu bahwa kesempurnaan berarti kesendirian. Seorang agen Inggris yang kemudian di pihak Soviet, Arch Cummings, mengutip sebuah puisi Irlandia. A friend for today is tomorrow's heartbreak. Sebuah larik yang mewakili lakunya.
Di atas semua itu, Matt Damon tetap tampil dengan ganteng. Aku berdesir-desri tiap kali matanya menatap lurus ke dapan dengan tajam.
Oh, Mon... wajahmu itu loh....
Judul Film The Good Shepherd
Sutradara Robert de Niro
Aktor Matt Damon, Angelina Jolie, Alec Baldwin, Robert de Niro, Tammy Blanchard, Michael Gambon
Produser Jane Rosenthal
kontributor: agung be ha
Jujur!!! Ini film serius. Sangat-sangat serius. Hingga karena terlalu serius, Nagabonar (Deddy Mizwar) menarik-narik tangan patung Jendral Sudirman yang menghormat. Patung Jendral dengan ikat kepala dan mantel yang berdiri tegap menghormat entah kepada siapa.
“Siapa yang kamu hormati Jendral?” lanjut Nagabonar, “apa mobil-mobil itu?”
Saya sempat tertegun melihat adegan itu. La tiba-tiba kok saya kasihan pada Jendral Sudirman. Kok tiba-tiba saya ingat pepesan guru PMP, “Apa sumbangsihmu bagi negara?” Dan anehnya ada yang mengganjal di tenggorokan. Ada yang menggumpal dalam dada. Nafas saya tersengal. Di kelopak mata, seperti ada yang ingin keluar. Sesuatu itu saya tahan.
Saya malu mengeluarkannya. Sebab saya saat itu di 21. Apa kata dunia, jika saya sampai mengeluarkan sesuatu yang seperti buliran itu keluar. Apa kata cewek berparfum menggoda melihat lelaki di samping kanannya me....
Bioskop yang gelap menyelematkan saya dari malu. Dari ingus bening yang keluar dari hidung. Dari mew.... ah saya berhasil menahannya.
Mungkinkah saat nasionalisme saya tergugah? Waduh!!! Ini terlalu serius. Ngomongin nasionalisme di jaman Tukul Arwana tenar. Ngomongin nasionalisme di jaman tentara di sepelemparan ketapel dari Monumen Nasional lebih suka bergoyang dangdut daripada perang.
Tapi mungkin ini yang hendak disampaikan Babe Kalah Perang (Deddy mis-war) kepada penonton. Di tengah semarak film horor yang bikin terbahak. Bahwa, mungkin menurut Babe, Indonesia ini bukan saja hanya milik para pejuang, para tentara, dan para pahlawan. Tapi, barangkali, juga milik orang-orang yang dipilih Yang Maha Rahim lahir di tanah air ini: Indonesia. Dan generasi 3G ini sudah luntur nasionalismenya.
Ini juga bukan jamannya orang diteror dengan film horor. Tapi jaman Indonesia yang serius tapi juga bisa tertawa.
Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya pembaca, maaf jika dua paragraf di atas, saya terlalu serius. Tapi itu yang saya tangkap dan rasakan dari film ini. Film tentang kesenjangan nilai antar dua generasi. Tentang generasi Bonaga (Tora Sudiro) dengan jaman ketika Nagabonar yang mantan copet bisa jadi Jendral di jaman Revolusi Fisik.
Saya tak hendak berargumen masalah kesenjangan nilai antar generasi ini. Sebab kuping saya, yang sebulan sekali dikorek, (kadang juga lupa) ini masih bisa mendengar gadis disamping kiri saya di 21 ngomong sama yayangnya, “Yang apa dulu Nagabonar jadi Jendral?”
“Waduh!!! Mbaknya nonton Naganobar Jadi 2 pasti gara-gara pengaruh iklan,” batinku. Sejenak saya ingat pada kategori para penonton film di Janji Joni. Jika dikategorikan, Mbaknya ini pasti masuk golongan penonton berisik. Dan saya pun akan dicomot dan dimasukkan dalam kategori kritikus amatir. Weladalah!!! Saya kok main kategori-kategorian to ini.
Tapi tak apalah, sang dalang (sutradara) Pak Deddy Mizwar memang membuat saya jadi seperti itu. Membuat saya harus menilai, menimbang dan memutuskan. Bahwa dalam perkara dakwah, Pak Deddy seperti Sunan Kalijaga. Dia ceramah lewat seni dan budaya pertunjukan. Jika Sunan Kalijaga dulu dakwah dengan wayang kulit, maka Pak Deddy ini dakwahnya lewat wayang modern, film namanya.
Dan Wulan Guritno yang tampil anggun itu cuma pemain. Yang dia harus berperan m,enjadi wanita sempurna. Berparas ayu, cerdas, mulus (lemu tur alus, gemuk dan halus), punya mobil sedan mewah, tinggal di rumah mewah juga.
“Apa kata dunia?”
“Wahai lelaki!!! Diwajibkan atas kamu untuk ngiler pada wanita macam itu,” kata saya.
Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya!!! Maafkan saya, kritikus amatir ini, lancang mengkritik Pak Deddy. “Nagabonar jadi 2” memang bagus. Tapi gaya sinetron tetap saja ada. Seperti juga Mbak Wulan yang memerankan wanita sempurna itu. Juga tentang Mas Tora yang jadi executive muda. Dan Tukang bajaj harus ditampilkan dengan wajah memelas. Waduh!!! La kok kayak sinetron bikinan Om-om Punjabi. Nehik lah ya.
Jika boleh saya menilai, adegan terbaik dalam film ini adalah ketika Nagabonar berhasil mencopet jam tangan pengusaha Jepang.
Apa kata Nagabonar?
“Tak tahu lah Kau Bonaga, Jepang itu dulu merampas negeri kita lebih dari jam tangan ini.”
Itu baru satu contoh. Satu contoh adegan terbaik lainnya ketika film ini usai. Nagabonar yang tua, memerintahkan kepada Tora dan kawan-kawannya untuk segera membayar permadani Mushala. Semua pemuda itu tampak tergeragap. Lari tergesa-gesa.
Penonton di 21 itu pun terbahak. Entah apa yang mereka tertawakan. Sebab tawa itu segera reda. Lampu mulai di 21 itu pun dinyalakan. Penonton pun bubar.
Sekali peristiwa, ketika film itu usai, sehabis nonton film ini dua lelaki kebingungan cari pintu keluar di Ambarukmo Plaza. Mereka nyasar sampai di lower ground.
Mewekkah mereka?
Dua lelaki itu akhirnya meringis, setelah mereka melihat Jalan Solo, Yogyakarta. Jujur!!! Cerita ini tak mengada-ada.
Sutradara: Deddy Mizwar
Pemain: Deddy Mizwar, Tora Sudiro, Wulan Guritno, Lukman Sardi, Uli Herdiansyah
Penulis: Musfar Yasin
Produksi: PT Gisela Citra Sinema (2007)