Laskar Pelangi


Sutradara : Riri Riza
Produser: Mira Lesmana
Skenario: Salman Aristo
Pemain: Cut Mini, Ikranegara, Tora Sudiro, dll.
Tahun: 2008
Masa Putar: 125 menit

Memfilmkan sebuah buku yang telanjur populer tentu merupakan beban tersendiri bagi sutradara dan penulis skenarionya. Ada semacam tuntutan untuk bersetia dengan yang tertulis di buku. Sebab, jika berani menyimpang salah-salah akan menuai kecaman dan protes dari para pembaca fanatiknya.

Novel laris karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi, apa mau dikata adalah karya yang dua tahun belakangan ini telah berhasil meraih perhatian publik pembaca kita. Terbukti dengan penjualannya yang konon mencapai 1 juta eksemplar. Sebuah angka langka bagi penjualan buku fiksi lokal. Sukses tersebut tampaknya akan terus berlanjut dengan pembuatan filmnya yang beredar secara serentak hari ini (25/9) di seluruh Indonesia.

Lewat kolaborasi ciamik Riri Riza (sutradara) dan Salman Aristo (penulis skenario) jadilah Laskar Pelangi sebuah tontonan yang memikat justru berkat keberanian mereka “berselingkuh” pada novelnya atas seizin Andrea Hirata yang pada sebuah kesempatan pernah berujar, bahwa ia tak akan mencampuri pembuatan filmnya, sebab novel dan film adalah dua media yang berbeda, masing-masing memiliki keunikan sendiri.

Keberanian duet ini untuk tidak bersetia kepada naskah asli novelnya, justru telah membuat film tersebut lebih manusiawi. Mereka berhasil menutupi “lubang-lubang” pada bukunya. Misalnya, dengan menghilangkan beberapa adegan “tidak logis” di bukunya atau menghadirkan tokoh lain yang tidak ada di buku : Mahmud dan Bakri.

Kemunculan karakter Pak Mahmud (Tora Sudiro) dan Bakri yang tidak ada di buku, cukup menghidupkan film. Kisah Mahmud, guru SD PN Timah dalam upayanya menjerat hati Ibu Muslimah (Cut Mini) menjadi hiburan tersendiri. Siasat yang cukup berhasil untuk mencuatkan sisi lain Ibu Muslimah.

Tokoh Bakri yang materialistis sekaligus realistis adalah antagonis kecil yang dihadap-hadapkan dengan sosok idealis Ibu Muslimah, anak didik Pak Harfan (Ikranegara), sang kepala sekolah SD Muhammadiyah Gantong yang sampai akhir hayatnya mengabdikan diri pada sekolah miskin yang nyaris ditutup karena ketiadaan murid itu.

Film dibuka dengan narasi Ikal dewasa (Lukman Sardi) yang tengah pulang kampung guna mewartakan kabar gembira keberhasilan dirinya memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi master di Universitas Sorbonne, Prancis. Lewat narasinya, kita kemudian dilempar secara kilas balik ke masa kecil Ikal bersama kesepuluh orang temannya di SD kampung yang reyot dan mirip kandang kambing itu. Oleh Ibunda Guru mereka, Ibu Muslimah, kesebelas bocah dekil dan kumal ini (kecuali Flo yang pindahan dari SD PN Timah) diberi nama Laskar Pelangi.

Lalu adegan pertama yang menyentuh hati muncul di layar: Lintang, anak pesisir yang kelak jadi murid paling pandai, mengayuh sepeda menuju kelas barunya di Gantong. Ia menjadi murid pertama yang hadir di sekolah pada tahun ajaran baru 1974 itu. Tak lama kemudian, Ibu Muslimah tiba–juga dengan bersepeda–dan menghampiri Lintang. Terjadilah dialog sederhana dalam bahasa dan dialek Melayu yang membuat mata saya basah (Apa dialognya? Silakan nonton filmnya). Tapi mungkin juga ekspresi polos Lintang itu turut menebalkan keharuan.

Selanjutnya, film mengalir dengan sebagian besar memuat adegan murid-murid Belitong yang lugu namun penuh semangat menuntut ilmu. Dalam segala keterbatasan mereka tetap berusaha ceria. Tak lupa mata kita juga dimajakan sejenak oleh pemandangan indah sebuah pantai yang penuh bebatuan raksasa tempat untuk pertama kalinya mereka menatap pelangi.

Secara umum akting bocah-bocah itu lumayan natural. Tidak semuanya kebagian peran utama.Tiga yang menonjol adalah Ikal, Lintang, dan Mahar. Dan dari ketiganya, bintangnya adalah Mahar, si seniman yang selalu membawa radio transistor ke mana-mana dengan mengalungkannya di leher.

Akhirnya film ditutup dengan satu lagi adegan mengharukan. Paling mengharukan bagi saya, sama ketika membaca bukunya: Lintang berpamitan kepada teman-teman dan gurunya, memberitahukan bahwa untuk seterusnya ia tak akan pernah datang lagi ke sekolah itu karena ayahnya hilang ditelan ombak lautan saat pergi menjala ikan. Sebagai anak lelaki sulung di keluarganya, Lintang kini harus mengambilalih tanggungjawab menghidupi ketiga orang adik perempuannya. Ya, si murid yang lima tahun lalu menjadi murid paling pertama tiba di sekolah, kini harus menjadi murid paling pertama yang meninggalkan sekolah. Kemiskinan orang tuanya telah menutup pintu kesempatan mengecap pendidikan setinggi-tingginya seperti yang diharapkan ayahnya. Gambaran yang teramat ironis di salah satu pulau paling kaya di negeri ini.

Dan seraya diiringi lantunan vokal Giring Nidji yang menyanyikan soundtrack “Laskar Pelangi”, saya keluar gedung bioskop dengan air mata yang masih belum mengering. ***

0 comments: