Kematian Hari ini

kontributor: anto dengan ka

[Pause dalam ilmu tata kalimat (sintaksis) diartikan kesenyapan sementara atau posisi diam alat ucap yang terjadi ditengah arus ujar. Suatu titik perhentian yang belum final, karena belum dapat mencapai suatu kebulatan makna]

Manusia sering berharap bisa hidup untuk yang kedua kalinya. Menutup rapat-rapat pintu masa lalu, menata ulang sejumlah rencana, lantas memulai lagi semuanya dari mukaddimah. Seraya berharap keajaiban skenario kehidupan seri kedua dapat direvisi tanpa mengikutserakan kesalahan yang pernah buat.

Menonton 21 Grams adalah menonoton manusia-manusia yang diberikan kehidupan untuk kali kedua. Pesakitan bernama Paul Rivers (Sean Penn) yang disembuhkan dari penyakitnya yang parah, ibu rumah tangga bernama Cristina Peck (Naomi Watts) yang menemukan cinta yang baru setelah kehilangan suami serta dua orang anak dalam kecelakaan lalu lintas, serta seorang narapidana, Jack Jordan (Benicio Del Toro), yang dibebaskan dari penjara.

Kita kemudian disodori sebuah pokok soal: apakah dengan demikian hidup yang dijalani akan menjadi lebih baik?

Kesempatan kedua, yang diharapkan menjadi semacam jeda (pause) untuk menarik napas, ternyata tetap tak bisa mengingkari satu hal mendasar: masa lalu tidak bisa diputus. Masa lalu akan selalu ada, hanya bersembunyi barang sebentar, mungkin beberapa kerjap, dan lantas menyeruak kembali dalam bentuknya yang lain. Barangkali dalam bentuk serupa hantu yang bahkan bisa bertindak lebih kejam dari kehidupan sebelumnya.

Tiga tokoh utama 21 Grams pada awalnya adalah tokoh-tokoh yang tak mengalami kebahagian dalam come back-nya. Pergulatan melawan masa lalu yang terus menghantui menjadi muasal ketidakbahagian mereka. Bagi mereka, hidup yang kini dijalani adalah hidup yang tak hidup. Hidup yang dijalani dan dihayati sekadarnya untuk menunggu kematian. Karena hidup sebenarnya telah dilewati pada waktu dulu.

Para tokoh sentral mengalami alienasi alias tercerabut dari akar kehidupan. Takdir yang terjadi di luar kehendak membuat mereka menjadi gamang. Derita-derita yang dialami membuat mereka menarik jarak yang sangat jauh, hingga kehidupan dipandang secara kabur dan tidak objektif. Ketika tak ada lagi sesuatu yang terlihat, maka pandangan akan melulu berpusat pada diri sendiri. Yang lain tak begitu penting. Yang ada adalah aku dan hanya diriku.

Tokoh-tokoh itu seakan ingin berteriak, “Akulah orang yang paling menderita di dunia!”.

Titik kebangkitan film Alejandro González Iñárritu ini mulai menyeruak ketika para tokoh sentral mulai memiliki kesadaran akan hidup masa kini yang harus dijalani. Mulai membiasakan diri lagi melakukan aktivitas keseharian. Pergi ke gereja, menyibukan diri dalam pekerjaan, berolahraga renang, atau sekadar jalan-jalan. Belajar melupakan kesakitan-kesakitan masa lalu.

Dengan penerimaan yang lebih lapang pada masa lalu, hidup di waktu kini menjadi mudah dijalani. Lebih bisa disikapi dengan arif. Hal itu adalah pertaruhan utama dalam kehidupan para tokoh, sebab masa lalu yang menjadi hantu bisa menjadi kesumat pada masa kini, yang berpeluang menuntut balas suatu saat kelak.

Gambaran tentang itu bisa kita lihat di bagian akhir film. Ketiga tokoh sentral bertemu dalam suatu pertikaian yang beraroma dendam masa lalu. Setiap tokoh pada akhirnya ingin menggenapkan semua urusan. Melunaskan semua dendam. Tindakan yang berujung kematian dianggap sebagai jalan keluar menyelesaikan silang sengketa dengan diri sendiri dan orang lain.

Ada berbuntal-buntal nafsu untuk membandingkan antara yang silam dan yang sekarang. Perbandingan itu seakan menjadi ukuran paling shahih antara mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk. Selain akan melenyapkan kekhasan renik-renik dan keutuhan kehidupan, proses pembandingan macam itu juga meniscayakan adanya yang tertinggal dan terabaikan dalam perbandingan macam itu.

Hidup tidak bisa diartikan sebagai kumpulan bagian-bagian yang terpisah satu sama lain. Seluruh bagian saling terhubung dan bisa jadi akan saling menentukan satu sama lainnya. Jika satu bagian telah terlampaui, itu hanya berarti suatu permasalahan telah selesai. Padahal, kesinambungan permasalahan akan tetap berlanjut, bersengkarut dengan permasalahan lain yang mungkin berbeda konteks.

Hidup adalah sengkarut permasalahan-permasalahan yang saling terpaut satu dengan lainnya hingga hanya kematianlah yang benar-benar bisa menuntaskannya. Jeda (pause) kehidupan adalah titik di mana kita berpikir ulang dan membuat suatu perubahan. Sesuatu yang bersifat sementara, tidak bisa dijelaskan dan datang kapan pun dan di manapun dia suka. Kematian sebagai final solution. Akhir di mana hidup dapat secara utuh dimaknai.

Ketika seseorang memulai kehidupannya yang baru, bukan hanya dia yang memulai, tetapi orang lain yang bersamanya juga bersama-sama memulai kehidupan baru. Hidup dan kehidupan adalah ikatan kebersamaan di mana setiap orang mempunyai peran yang signifikan untuk membangun struktur hidup itu sendiri.

Setiap orang saling menentukan. Bahkan orang yang telah mati sekalipun ikut mengambil bagian.

0 comments: